BeritaParlementaria

Kunker ke DPRD Balikpapan, Legislator Tana Toraja Studi Tiru Tata Kelola PAD

×

Kunker ke DPRD Balikpapan, Legislator Tana Toraja Studi Tiru Tata Kelola PAD

Sebarkan artikel ini
Anggota Komisi II DPRD Balikpapan, Swardi Tandiring, menyambut kunjungan kerja DPRD Tana Toraja di ruang rapat Komisi II DPRD Balikpapan pada hari Selasa, 21 Januari 2026. (foto: narasinegeri)

Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Balikpapan yang menembus Rp1 triliun per tahun, menarik minat daerah lain untuk melakukan studi tiru. Satu di antaranya datang dari DPRD Kabupaten Tana Toraja, saat melakukan kunjungan kerja ke DPRD Kota Balikpapan pada Selasa (21/4/2026).

Rombongan legislator salah satu daerah di Sulawesi Selatan (Sulsel) memanfaatkan kesempatan itu untuk menggali strategi Kota Balikpapan dalam mengoptimalkan PAD.

Wakil Ketua DPRD Tana Toraja, Leonardus Tallupadang, mengaku terkesan dengan penerapan kebijakan Pemerintah Kota Balikpapan. Catatan yang pihaknya peroleh dalam kunjungan kerja ini, tentu menjadi rujukan berarti untuk membenahi tata kelola sumber PAD di daerahnya.

“Kami terkesan melihat pendapatan daerah di Balikpapan yang mencapai lebih dari Rp1 triliun. Sedangkan, APBD kami saja sekitar Rp1,2 triliun, jadi selisihnya cukup jauh,” sebut Leonardus saat memimpin kunjungan kerja jajarannya di kantor DPRD Balikpapan.

Penerapan sistem digital dalam pengelolaan keuangan daerah menjadi daya tarik utama studi tiru DPRD Tana Toraja di Balikpapan. Leonardus mengakui, digitalisasi menjadi langkah strategis untuk mendorong transparansi tata kelola sekaligus menekan potensi kebocoran PAD.

“Di sini sudah banyak menerapkan sistem tata kelola berbasis elektronik. Itu penting untuk mengurangi kebocoran. Mudah-mudahan bisa kami terapkan juga di Tana Toraja,” sambungnya.

Kesempatan berbagi strategi optimalisasi sumber PAD antar daerah

Selain itu, jajaran dewan Tana Toraja juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertukar pengalaman mengenai optimalisasi potensi sumber PAD. Sejauh ini, kata Leonardus, Tana Toraja mengandalkan sektor pariwisata, pertanian, dan peternakan sebagai sumber pemasukan daerah.

“Pariwisata tetap jadi andalan kami, termasuk kopi Toraja yang sudah terkenal luas. Tapi kami ingin belajar memaksimalkan potensi seperti yang dilakukan di Balikpapan,” jelasnya.

Di lain pihak, anggota Komisi II DPRD Balikpapan, Swardi Tandiring, menyambut positif kunjungan tersebut. “Studi tiru menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan, termasuk dalam hal ini optimalisasi pendapatan daerah,” tuturnya.

Kabupaten Tana Toraja memang memiliki potensi sektor wisata, bahkan dikenal hingga mancanegara. Sementara, menurut Swardi, Balikpapan memiliki sumber pemasukan yang lebih beragam, mulai dari sektor jasa, bisnis, hingga industri.

“Kunjungan seperti ini juga menjadi kesempatan bagi kita untuk mengadaptasi kelebihan daerah lain. Strategi optimalisasi tata kelola sumber PAD bisa menjadi langkah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di masing-masing daerah,” singkatnya.

Tinggalkan Balasan