Anggota DPRD Kota Balikpapan, Nelly Turuallo, memaksimalkan dana aspirasi sekaligus mendukung program Kota Layak Anak melalui penyediaan sarana edukasi anak.
Selaku wakil rakyat, Nelly memastikan seluruh aspirasi masyarakat yang tertampung melalui jalur reses maupun dialog warga masuk dalam perencanaan daerah. Namun, dalam hal realisasi, tetap bergantung pada ketersediaan anggaran.
“Semua aspirasi kami entri dalam SIPD (Sistem Informasi Perencanaan Daerah) tetapi tidak otomatis masuk dalam KUA-PPAS. Tetap menyesuaikan kondisi kemampuan anggaran daerah,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Ia mengakui, mayoritas usulan masyarakat di daerah pemilihannya, Balikpapan Tengah, mencakup bidang infrastruktur, misalnya perbaikan jalan dan drainase.
Meski demikian, Nelly berupaya menghadirkan program alternatif yang berdampak terhadap kualitas tumbuh kembang anak. Kebetulan, isu tersebut sejalan dengan kajian komisinya, yakni Komisi IV yang membidangi sektor pendidikan dan kesejahteraan sosial.
Pada periode APBD Perubahan 2025 lalu, ia merealisasikan penyediaan alat permainan edukatif rumah ibadah ramah anak (APERIRA) di GPIB Bukit Benuas.
Politisi Partai Golkar itu turut menekankan pentingnya fasilitas tersebut dalam mencegah stunting. Ia menyoroti tingginya penggunaan gawai pada anak usia dini yang berpotensi menghambat perkembangan, termasuk risiko keterlambatan bicara.
“Anak-anak sekarang terlalu sering menggunakan smartphone. Ini bisa berdampak pada perkembangan mereka, termasuk delay speech,” ungkapnya.
Sarana permainan edukatif, menurutnya akan mendorong anak-anak untuk lebih aktif berinteraksi dan belajar secara langsung. Kini, keberadaan sarana tersebut cukup efektif mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai.
“Di gereja itu kan banyak anak-anak sekolah minggu ya, jadi sekarang mereka lebih senang bermain di sarana permainan itu,” terangnya.














