BeritaEkonomi dan BisnisParlementaria

Strategi Tak Umum Saat Reses Wahyullah Bandung di Balikpapan Selatan

×

Strategi Tak Umum Saat Reses Wahyullah Bandung di Balikpapan Selatan

Sebarkan artikel ini
reses ekraf anggota dprd Balikpapan
Anggota Komisi III DPRD Kota Balikpapan, Wahyullah Bandung, melakukan pendekatan berbeda saat menggelar reses di gedung Creative Hub, Balikpapan Selatan. (foto: narasinegeri)

Anggota Komisi III DPRD Balikpapan, Wahyullah Bandung, memilih pendekatan berbeda dalam kegiatan resesnya yang berlangsung Sabtu (4/7/2026). Jika umumnya anggota legislatif menyerap aspirasi dari kalangan warga berbasis wilayah, maka Wahyullah menggelar diskusi bersama para pelaku ekonomi kreatif (ekraf).

Hampir seluruh komunitas dari 17 subsektor ekraf menghadiri kegiatan di gedung Creative Hub, Jalan Ruhui Rahayu, Gunung Bahagia Balikpapan Selatan tersebut.

Wahyullah menganggap, komunitas seperti pelaku ekraf merupakan bagian dari warga Balikpapan yang juga perlu menyuarakan pendapat. Dari kacamata legislatif, forum reses adalah salah satu ruang tepat untuk mengkaji solusi atas berbagai persoalan di lapangan.

Legislator asal Balikpapan Selatan itu mengibaratkan kegiatan ini “belanja masalah” sebagai acuan pengambilan kebijakan oleh pemerintah daerah.

“Kalau kita mengetahui masalah yang mereka hadapi, maka kita bisa mendorong pemerintah menghasilkan kebijakan yang lebih tepat,” katanya

Dalam kesempatan yang sama, Wahyullah turut menghadirkan komunitas ekonomi kreatif dari Kota Makassar. Komunitas ekraf tersebut, katanya, cukup berpengalaman membentuk jaringan kerja lintas daerah, hingga kini mendapat dukungan penuh pemerintah kota asalnya.

Ia berharap pengalaman tersebut bisa menginspirasi sekaligus menjadi referensi untuk memperkokoh ekosistem ekraf di Balikpapan.

“Karena saya melihat potensi ekonomi kreatif ini besar sekali. Sebagai mitra eksekutif, jadi kewajiban kami untuk memfasilitasi warga. Jadi, kita sama-sama mendengar aspirasi ini,” imbuhnya.

Pengembangan sektor ekraf Balikpapan buntu di tahap pemasaran

Dari kegiatan itu, Wahyullah mencatat berbagai kendala pengembangan sektor ekraf Balikpapan. Namun, sorotan lebih tertuju pada tahap pasca produksi.

“Saya lihat, kendala terbesar ada di sisi pemasaran. Setelah mengikuti pelatihan, mengurus legalitas dan perizinan, mereka masih kesulitan menjual produknya,” ungkapnya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan utama bagi pemerintah untuk melengkapi program pembinaan yang selama ini telah berjalan. Begitu juga dari sisi birokrasi dan mekanisme perizinan yang kini relatif mudah.

Maka dari itu, ia mencermati perlunya konsep pentahelix dalam pengembangan ekraf. Kolaborasi pemerintah, dunia usaha, perbankan, komunitas, akademisi, termasuk ekosistem pemasaran mesti saling terhubung.

“Nah, Creative Hub (simpul) ini akan mencoba meramu itu menjadi sebuah kekuatan dan mudah-mudahan bisa membantu mereka menjual produknya,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Depo kontainer Balikpapan Utara
Berita

Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Balikpapan berkomitmen menggiring realisasi pembangunan Depo Kontainer di Kilometer 13, Balikpapan Utara. Sebagai bentuk keseriusan, dewan mendorong agar proyek bernilai Rp175 miliar itu masuk dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2027