Anggota Komisi IV DPRD Balikpapan, Iim, menyoroti nasib kader posyandu yang sampai kini belum mendapat perhatian yang layak. Meski kader posyandu berperan penting sebagai ujung tombak dalam penanganan stunting di Balikpapan.
Pemerintah memang telah berupaya maksimal dalam menangani stunting melalui berbagai program. Namun, menurut Iim, keberhasilan program tersebut tetap bergantung pada kader posyandu yang menjalankan tugas langsung ke tengah masyarakat.
“Upaya pemerintah dalam penanganan stunting itu saya pikir tidak kurang. Tapi, ujung tombaknya kader posyandu. Pemberian makanan tambahan, sosialisasi, semua melalui mereka,” terangnya, Selasa (5/8/2025).
Sejauh ini, Iim menilai perlunya dukungan terhadap dedikasi para kader posyandu. Selayaknya guru mengaji atau marbot masjid yang telah mendapat insentif dari pemerintah.
“Kader posyandu itu harus kita beri apresiasi. Mereka ujung tombak di lapangan, mestinya dapat insentif. Seperti halnya guru ngaji atau marbot. Masa kader posyandu belum,” tegasnya.
Maka dari itu, Iim mendorong pemerintah kota mengalokasikan anggaran khusus untuk memberikan insentif bagi para kader posyandu. Dengan begitu akan meningkatkan motivasi dan memperkuat kinerja para kader posyandu dalam menekan angka stunting.
“Kalau dikasih insentif, pasti semangat mereka bertambah. Kita akan dorong hal ini dalam pembahasan anggaran ke depan,” tekadnya.
Politisi PKS itu menilai stunting tidak hanya terpaut pada persoalan kekurangan gizi. Ada beberapa faktor lain yang juga memberi pengaruh terhadap kondisi anak, di antaranya kesehatan mental ibu hamil.
“Stunting itu bukan cuma soal makanan. Kondisi ibu hamil juga penting, termasuk kesehatan mentalnya. Kadang makanan banyak, tapi karena ibu stres, sedang ada masalah dengan suami atau mertua, makanan itu tidak termakan. Itu berpengaruh besar,” jelasnya.
Selain itu, Iim juga menekankan pentingnya akurasi pendataan dalam penanganan stunting di daerah.
“Pendataan juga perlu akurat. Kalau ukuran tidak presisi, data stunting bisa keliru. Kita harus pastikan kader yang mencatat dan mengukur benar-benar mendapat pelatihan memadai,” tambahnya.