Destinasi wisata kuliner di Kota Balikpapan kini semakin berwarna oleh kehadiran La Gramma. Sebuah coffeshop yang tidak hanya menghidangkan beragam kopi racikan, tapi juga sajian aneka pastry.
La Gramma belum lama ini membuka gerai di jantung kawasan elit, Balikpapan Baru. Tepatnya di bilangan Jalan Tjutjup Suparna, Balikpapan Selatan. Selain strategis, areanya leluasa hingga mampu menampung seratusan pengunjung di dalam maupun luar ruangan.
Furnishing yang seluruhnya berbahan kayu di bagian interior maupun eksterior, menghadirkan suasana ramah dan berkelas. Menjadikan La Gramma nyaman untuk santai, sekalipun bekerja. Atau sebagai tempat tongkrongan yang instagramable bagi para muda-mudi.
Dukungan area parkirnya yang memadai untuk kendaraan roda dua maupun empat, semakin menambah aksesibilitas bagi berbagai lapisan pengunjung.
Meski belum beroperasi secara penuh, La Gramma cukup menarik perhatian sebagian penggemar kuliner di kota Beriman.
“Ya, syukurnya kita dapat sambutan yang baik. 20 April kemarin kita mulai buka, meskipun belum 100 persen, yang datang cukup ramai,” ucap Owner La Gramma, Afryandi saat ditemui di gerainya, Kamis (23/4/2026).
Yandi, sapaan pengusaha muda itu mengungkap, gerai di Balikpapan ini merupakan cabang pertama dari La Gramma Pontianak.
La Gramma, ia kutip dari frasa Perancis yang dalam bahasa Indonesia bermakna “Nenek”. Pemilihan nama tersebut sebagai bentuk kebanggaannya terhadap sang nenek.
“Dalam keluarga, saya memang orang yang paling dekat dengan nenek, jadi ini bisa dibilang honnour kepada dia,” tuturnya.
Sebagaimana kedai kopi pada umumnya, La Gramma menyediakan berbagai varian olahan kopi. Mulai dari kopi asli, racikan kopi dengan susu, coklat, krim, keju hingga gula aren.
Namun yang menjadi ciri khas, kopi baku di La Grama merupakan perpaduan antara biji kopi Mandailing, Brazil dan Ethiopia. Yandi mengatakan, perpaduan ini bukan sekadar bertujuan menciptakan cita rasa baru. Melainkan juga mewakili kekhasan berbagai belahan dunia perkopian.
Misi menjadikan lapis legit sebagai ikon kuliner lokal

Meski demikian, La Gramma justru menempatkan lapis legit sebagai menu andalan, ketimbang sajian kopi.
Ide tersebut muncul setelah mengamati kultur penikmat yang umumnya menyandingkan kopi dengan kue-kue olahan sebagai makanan tambahan (camilan). Pilihan itu juga menjadi strategi Yandi untuk meningkatkan citra lapis legit sebagai ikon kuliner daerah.
“Biasanya penikmat kopi itu di atas mejanya selain kopi hampir selalu ada croissant (roti khas Perancis). Harusnya, lapis legit juga bisa seperti itu dong. Ini kuliner lokal lho, kita ingin juga menghadirkan kearifan lokal sebagai gaya hidup dalam menikmati kopi,” jelasnya.
Namun demikian, La Gramma tetap menyediakan menu kue dan aneka roti sebagai pilihan lain untuk kudapan.
Menariknya lagi, La Gramma mematok rate price yang ringan di kantong untuk berbagai sajian-sajian mewah tersebut. Varian kopi saja, rata-rata di bawah Rp50 ribu per sajian. Sedangkan untuk varian kue dan roti antara Rp10-16 ribu per pieces.
Sementara menuju Grand Opening pada 5 Mei mendatang, gerai La Gramma hanya buka mulai siang hari. Setelah beroperasi penuh, gerai akan buka mulai pukul 7.00-23.00 Wita setiap hari.
“Setelah siap buka penuh, kita juga akan menyediakan menu-menu nusantara. Misalnya, nasi goreng, sop buntut atau makanan khas lokal lainnya. Nah, nanti ada juga menu spesial sarapan, bubur ayam. Stand-nya lagi kita siapkan di depan sebelah samping pintu masuk,” urai Yandi.
La Gramma beri sinyal positif bagi perekonomian kota
Di lain hal, Tokoh pengusaha lokal, Halim Wardana, menanggapi positif kehadiran La Gramma di Balikpapan.
Sebagai daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), Balikpapan punya posisi tawar yang prospektif untuk berinvestasi. Halim memahami hal tersebut menjadi faktor bagi pengusaha luar daerah, seperti Aryandi untuk ikut meraih peluang di Balikpapan.
Memang, kehadiran La Gramma akan mendorong industri kuliner daerah semakin kompetitif. Namun demikian, hal ini juga menjadi sinyal bagus bagi pertumbuhan ekonomi kota.
“Investasi yang masuk ke Balikpapan pastinya akan berefek bagus bagi pemasukan daerah melalui pajak. Dengan begitu juga akan membuka peluang kerja bagi warga lokal. Saya kira ini kesempatan bagus buat La Gramma untuk sama-sama berkontribusi pada pembangunan daerah,” singkatnya.








