Anggota Komisi IV DPRD Balikpapan, Iim, kurang setuju dengan wacana pembelajaran daring bagi pelajar seiring upaya efisiensi bahan bakar minyak (BBM). Meski sebagian menganggap cara tersebut efektif, menurutnya, pembelajaran dari rumah tetap berpotensi menimbulkan dampak bagi peserta didik.
“Kalau belajar online, nanti mereka pegang handphone, saat istirahat anak-anak buka apa lagi gitu ya. Pemantauannya jadi sulit,” ungkapnya saat ditemui di ruang Komisi IV DPRD Balikpapan, Senin (30/3/2026).
Meski pemerintah menggaungkan langkah efisiensi BBM, Iim lebih memilih agar para peserta didik tetap belajar langsung di sekolah. Politisi PKS itu juga mengkhawatirkan penerapan belajar dari rumah bagi peserta didik akan kontraproduktif dengan program makan bergizi gratis (MBG).
“Jangan sampai anak-anak harus belajar dari rumah, tapi tetap diminta mengambil MBG di sekolah. Artinya sama-sama tetap keluar rumah,” ujarnya.
Maka dari itu, Iim menyarankan pemerintah agar mencari solusi alternatif untuk menghemat energi.
Terlepas dari itu, ia mengaku sampai kini DPRD, khususnya Komisi IV yang membidangi pendidikan, belum membahas rencana penerapan belajar daring. Termasuk juga komunikasi atau koordinasi dengan pemerintah daerah terkait rencana belajar dari rumah bagi peserta didik sekolah.
Sekalipun ada, Iim nantinya akan lebih memilih peserta didik tetap belajar tatap muka di sekolah.”Kami lebih rekomendasi belajar tetap tatap muka langsung,” sebutnya.
Namun, Iim turut menekankan perlunya kebijakan terukur mengenai upaya penghematan energi. Terkait mekanisme pembelajaran, ia berharap adanya kebijakan yang memastikan peserta didik hadir ke sekolah, tapi tetap bisa menghemat energi.
“Mungkin bagi yang bisa naik sepeda atau jalan kaki, jika rumahnya dekat. Itu juga lebih sehat seperti di Belanda,” pungkasnya.
Rencana pembelajaran daring bagi siswa sekolah belakangan menjadi buah bibir sebagian masyarakat, seiring anjuran penghematan energi oleh Pemerintah. Kebijakan tersebut muncul setelah mencermati ketegangan di kawasan teluk, Timur Tengah akhir-akhir ini. Konflik geopolitik ini khawatirnya menghambat rantai pasokan sumber energi secara global, termasuk Indonesia.














