Lalu lalang tongkang pengangkut batubara seolah menjadi pemandangan biasa di sepanjang garis pantai kota Balikpapan dalam beberapa waktu belakangan ini. Sebuah pemandangan yang mudah ditangkap secara kasat mata dari bibir pantai.
Namun di balik pemandangan biasa itu, terdapat ancaman serius bagi ekosistem lingkungan di wilayah pesisir.
Sebuah area wisata pantai berbasis komunitas, Damba Enggang Borneo (DEB), di kawasan Stalkuda, Balikpapan Selatan, sudah mengalami dampaknya.
Pengelola DEB, M Ardhan Effendi, mengemukakan, tongkang-tongkang ini bukan lagi sekadar mengangkut, tapi juga melakukan bongkar muat di tengah laut. Aktivitas tersebut kemudian memicu limbah berupa serpihan batubara yang jatuh ke laut, bahkan terseret arus hingga terdampar di pantai.
Kawasan wisata yang beroperasi sejak tahun 2021 itu, sering kali menerima limbah kiriman hasil bongkar muat batubara. Parahnya, kondisi ini telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.

“Limbah batubara membuat pantai tidak nyaman dikunjungi. Pengunjung semakin sedikit, kami sekarang terpaksa menutup sementara tempat wisata ini,” keluh Ardhan, Sabtu (2/8/2025).
Sebelumnya, pengelola DEB bersama komunitas lingkungan, mahasiswa, dan kepolisian acap melakukan aksi bersih pantai secara swadaya. Namun, Ardhan, menilai upaya sukarela dari masyarakat saja belum cukup mampu menanggulangi pencemaran yang sistemik ini.
“Pemerintah harusnya turut menangani persoalan ini, bukan hanya diam,” timpalnya.
Limbah Batubara Membawa Bahaya Besar Bagi Terumbu Karang

Ardhan melanjutkan, padahal kawasan pantai DEB menyimpan potensi wisata dan ekosistem laut yang besar. Perairan di sekitar kawasan ini merupakan tempat berkembangnya terumbu karang.
“Saya suka menyelam dan melihat langsung keberadaan terumbu karang, meski tidak banyak. Tersebar di beberapa titik dan itu menjadi habitat lobster juga,” sambungnya.
Kerusakan terumbu karang beserta ekosistemnya inilah yang menjadi kekhawatiran terbesar Ardhan, bersama pengelola wisata DEB yang lain.
Limbah batubara, kata dia, membawa bahaya besar. Endapan batubara di dasar laut menimbulkan sedimentasi yang menutup dan menghambat pertumbuhan terumbu karang. Bahkan mematikan, akibat kandungan logam berat dan zat kimia beracun di dalamnya. Limbah tersebut juga tentunya berbahaya bagi biota laut lainnya.
Bagi dia, laut bukan tempat ideal untuk menampung limbah. Pelestariannya harus menyeluruh, mulai dari darat, pesisir hingga ke laut.
“Kalau tidak diselamatkan dari sekarang, kita akan kehilangan bukan hanya potensi wisata, tapi juga ekosistem laut yang seharusnya kita wariskan untuk generasi berikutnya,” pesannya.